Ini adalah pengalaman saya bersama adik-adik RHI di Solo dengan bermain dan belajar bareng sekolah alam bengawan solo dan berikut tulisan mbak anis selaku senior #ups :D
Chandra, Gibran, Rahmah, Nia, Virgin, Indra, Selo, Fafa, Tika, Nanda,
Galuh, Lintang, Husein, Uus, Anggun, Nauval, Suci, Rina, Sonia, Jeni,
Widya, Mita, Sekar, Dinta, Kembar (Risky-Wahyu) adalah anak-anak hebat
di Rumah Hebat Indonesia. Canda, tawa, senyuman dan tengkaran mereka lah
yang saat ini telah menghiasi atmosphere suasana Rumah Hebat begitu ceria setiap minggunya.
Mereka adalah anak-anak pada umumnya.
Masih
suka ngeyel, masih sering berantem ketika tidak sepakat dengan
temannya, masih suka usilin temannya hingga menangis, masih buang sampah
sembarangan, masih memilih bermain layang-layang daripada belajar
teater, masih wira-wiri kesana kemari glundang glundung saat kakak hebat
mengajar bahasa inggris, masih pilih hujan-hujanan daripada berdiam
diri di rumah dengan aktivitas membaca dan masih suka berdebat untuk
berebut kursi depan ketika kami ajak pergi berkegiatan diluar Rumah
Hebat.
Mungkin mereka bukan anak-anak yang memiliki
kemampuan intelegensi super jenius. Mungkin mereka bukan anak-anak manis
yang menuruti setiap apa yang dibilang oleh kakak-kakak di Rumah Hebat.
Mungkin mereka bukan anak yang mahir bercakap menggunakan bahasa
internasional. Mungkin mereka juga belum menjadi anak yang memiliki
banyak koleksi mendali atau piala. Namun, kami tau pasti, mereka adalah
anak-anak yang memiliki ‘Semangat’.
Kami semakin mengetahui semangat itu, ketika kami mengajak pergi mereka ke Car Free Day dalam rangka memperingati World Book Day.
Sore hari pada satu hari sebelumnya, kami janjian dengan mereka jam
setengah 6 pagi untuk sudah bersiap di Rumah Hebat. Mereka pun merengek,
mengatakan pukul setengah 6 itu terlalu pagi. Ya, terlalu pagi untuk
mandi pagi. Lucu sekali memang anak-anak ini. Bukannya mengeluh karena
tidak bisa bangun pagi, tapi mengeluh karena malas mandi. Hehe.
..
Dan tepat, seperti perkiraan kami. Pagi itu, mereka sudah datang
mendahului kami di Rumah Hebat. Bahkan kata ibu nya kembar yang tinggal
tepat disebelah RHI (Rumah Hebat Indonesia), anak-anak sudah bangun jam
setengah 5 pagi. Ampir- ampiran untuk sholat shubuh di masjid.
“Jarang-jarang begitu, biasanya hanya dilakukan ketika bulan puasa aja”,
ibu menambahkan. Well, dua jempol untukmu para sahabat kecil.
Setibanya
didepan pintu, kami disambut dengan wajah bantal dan gulingnya
masing-masing. “Hey cah, sregepmen to (*rajin bener sih), Pasti belum
mandi ya?” Tanya kami. “Beluuummm mbak” menjawab dengan serentak dan
sangat kompaknya. Saat itu, kami minta mereka untuk pulang dulu dan
mandi. Satu per satu dari mereka berguguran untuk menanggalkan bau kasur
dengan mandi pagi. Tapi, beberapa yang lain tetap teguh pada
pendiriannya untuk tidak mandi. Kata mereka “Gak mandi gak pa pa. Yang
penting tetep Ganteng”. Haha, Baiklah.
Sepulang dari acara World Book Day,
mereka langsung berkegiatan lagi. Main bal-balan (*sepakbola), belajar
bahasa inggris atau apapun yang dilakukan hingga maghrib di Rumah Hebat.
Gak ada capeknya, pikir kami. Padahal di pagi harinya, mereka ikut
berorasi dan berjalan cukup jauh di car free day bersama dengan kami dalam acara World Book Day.
Begitulah
salah satu pengalaman bersama mereka. Masih banyak tingkah, kejutan,
keusilan dari mereka yang selalu dapat membuat kami jatuh cinta.he.
Tentunya, semangat mereka ini lah yang menjadi salah satu alasan kami
untuk selalu tak henti-hentinya bersemangat.
Saat ini, kami ditakdirkan untuk membersamai langkah mereka..
Kami tidak akan pernah memaksakan mereka untuk menjadi apa kelak dimasa depan.
Kami
ingin sahabat- sahabat kecil di Rumah Hebat Indonesia ini menjadi kuat
dan tangguh dengan segala hal serta pengalaman hidup yang mereka pilih
sendiri.
Bagi kami, Hebat itu tidak harus menjadi insinyur, dokter, menteri, pilot maupun astronot.
Ketika
mereka berfikir untuk menjadi guru TPA/Ngaji serta Pengajar melukis
untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu sebagai impiannya, maka itulah
cita-cita ter-Hebat menurut kami.
Semester depan Chandra
sudah memasuki kelas 1 SMP, kembar kelas 5 SD, Nia kelas 6 SD dan begitu
hal nya dengan yang lain. Kami berharap, berpuluh tahun lagi ketika
kami sudah renta, mereka yang akan melanjutkan perjuangan ini. Dan
mungkin, mereka akan membersamai adik-adiknya dengan cara yang berbeda.
Tidak akan sama seperti apa yang kami lakukan. Karena mereka punya cara
sendiri untuk meng-Hebatkan Negeri.
Surakarta, 22 Juni 2013
Anis Diah Ayu Masita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar