Pemilihan Umum adalah salah satu sarana demokrasi.pesta demokrasi
yang merupakan perwujudan tatanan kehidupan Negara dan masyarakat yang
berkedaulatan rakyat,pemerintahan dari dan untuk rakyat.melalui
pemilu,setidaknya dapat dicapai tiga hal.pertama,lewat pemilu kita dapat
menguji hak-hak politik rakyat secara keseluruhan,kedua,melalui pemilu
kita dapat berharap terjadinya proses rekrutmen politik secara
adil,terbuka,dan kompetitif,ketiga,dari pemilihan umum kita menginginkan
adanya pergantian kekuasaan dari figur-figur pejabat publik yang lebih
baik.
Peran partai Politik
Partai politik secara fungsional berperan sebagai sarana pendidikan
politik,sosialisasi politik dan artikulasi kepentingan.Namun,jelang
pemilihan umum 2014 peran-peran konseptual itu,ini jelas tidak
sesederhana seperti yang masyarakat pikirkan karena partai politik saat
ini dihadapkan dengan kenyataan pemilih yang lebih cenderung memilih
karena berapa besar bantuan yang bakal mereka terima dari calon
legislatif yang diusung partai politik.Dan fakta politik pada pemilihan
umum 2009 tidak sedikit modal finansial yang dikeluarkan calon
legislative.Partai politik dihadapkan dengan fenomena politisi yang
berkualitas tapi tidak punya finansial yang kuat dan politisi yang punya
modal kuat tapi tidak berkualitas.Disinilah fleksibilitas politik itu
dimainkan,dan penulis berharap kedua hal itu bisa bersinergi dengan
baik.
Pemilihan umum dengan partai politik merupakan dua konsep yang tidak
bisa dipisahkan.pemilihan umum membutuhkan partai politik sebagai
pesertanya.sedangkan partai politik membutuhkan pemilihan umum sebagai
sarana memilih wakil-wakilnya yang akan duduk dalam legislatif maupun
kabinet.
Dewasa ini partai politik seakan tidak berjalan dengan fungsinya
bahkan menyimpang hal ini berdampak dalam pemihan umum yang bisa jadi
membuat rakyat pesimis dikarenakan sejumlah kasus dugaan korupsi yang
menyeret nama kader-kader partai besar.sebut saja politisi Partai
Demokrat yaitu M Nazarudin,Angelina Sondakh,Hartati Murdaya dan ketua
umum Anas urbaningrum,dari Golkar ada Zulkarnaen Djabar yang tersandung
kasus korupsi pengadaan Al Quran,ada juga mantan presiden Partai
Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq yang menjadi tersangka kasus
dugaan suap impor daging sapi.Perilaku korup para politisi ini membuat
pilu pemilih menjelang pemilihan umum tahun 2014 yang dikhawatirkan
membuat masyarakat malas menggunakan hak pilihnya dan menjadi golongan
putih atau golput.
Kepercayaan publik terhadap partai politik akan semakin
merosot,ditambah dengan anggapan bahwa partai politik tidak lagi menjadi
wadah aspirasi masyrakat karena hanya hadir menjelang pemilu.disisi
lain publik dibuat bingung oleh drama politisi yang semakin membosankan
dilihatnya,dua kasus terakhir yang menimpa Luthfi hasan ishaaq dan Anas
urbaningrum yang seakan akan ada konspirasi atau politisasi atas kasus
yang menimpa mereka,Prahara yang menimpa setiap partai politik sekarang
ini menjadi boomerang bagi system demokrasi nasional di masa yang akan
datang,menurut Lembaga survey Indonesia pada pemilu 1999 jumlah golput
masih 6,3%,angka itu naik jadi 16% pada pemilu 2004,sedangkan pada
pemilu 2009 jumlah golput melejit menjadi 29,1% atau terjadi peningkatan
lebih dari empat kali lipat dalam kurun dua periode.Tingkat partisipasi
rakyat dalam setiap pemilu memiliki kecenderungan menurun ternyata
tidak mendorong partai politik untuk memperbaiki kinerjanya,kasus
korupsi yang menimpa kader salah satu partai poliik bisa jadi berdampak
buruk ke partai lain yang kadernya tidak terjerat kasus korupsi karena
respon masyrakat yang mengenaralisasi semua partai politik korupsi dan
tinggal nunggu giliran kebongkar.
Hanya ada dua pilihan yang akan terjadi terkait meerosotnya moral
partai dan hubungannya dengan partisipasi pemilu.pertama adalah para
pemilih golput atau akan pindah ke lain hati dalam arti partai politik
tapi kemungkinan ini kecil karena kekecewaan terhadap partai politik
yang berpesan anti korupsi yang ternyata korupsi menimbulkan sifat
apatisme terhadap semua parpol.seperti yang diutarakan diatas bahwa
penurunan presentase peserta pemilu di 2014 yang akan datang ditentukan
oleh kinerja partai saat ini.bagi partai politik yang kadernya
tersandung kasus korupsi harus segera bersih-bersih agar terlihat
memberikan langkah kongrit untuk menegaskan bahwa partainya benar-benar
anti korupsi dan bisa meningkatkan jumlah pemilih.
Ada beberapa hal yang harus masyarakat kawal jelang setahun pemilihan
umum 2014 nanti dikelar.Pertama,partai poltik,masyrakat harus mampu
mendorong partai politik agar tidak mencalonkan politisi busuk menjadi
calon legislatif dan diharapkan partai politik mencalonkan orang-orang
yang punya moralitas dan integritas sebagai calon legislatifnya atau
caleg berkualitas.Kedua,menjadi pemilih cerdas,menjadi pemilih cerdas
pada pemilihan umum 2014 nanti bukanlah pilihan tapi sudah menjadi suatu
keseharusan.Kita bisa lihat bagaimana pada pemilihan umum 2009 yang
lalu kita dengan mudah terbuai oleh janji-janji politik para politisi
tanpa melihat apa yang telah mereka perbuat hari ini selain kunjungan
kerja keluar daerah dan luar negeri,yang menyakitkan sebagian dari
mereka juga jarang turun kemasyarakat sehingga tidak mampu menghasilkan
aturan-aturan yang berpihak terhadap masyarakat.Kini sudah saatnya kita
menjadi pemilih cerdas yang mampu memilah sebelum memilih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar